Kejadian keji dan tidak manusiawi kembali menghiasi berita dibumi pertiwi ini. Sebanyak 4 orang warga Desa Alastelogo Kecamatan Lekok Kabupaten Pasuruan tewas dan 6 orang luka akibat ditembak anggota marinir dari Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) Grati, Rabu (Tribun Kaltim 30/5).
Kejadian yang melibatkan aparat keamanan bentrok dengan warga sipil dipicu masalah sepele. Konflik sengketa tanah menjadi penyebabnya. Warga sipil harus bertaruh meregang nyawa dipucuk senjata peluru tajam milik anggota TNI AL sebagai jawaban protes dari warga desa yang mengklaim tanah tersebut. Ini merupakan kejadian ke sekian kalinya dari pihak militer yang tidak bisa menghadapi problem sosial secara demokratis dengan pihak sipil. Realitas ini merupakan cermin dari budaya militer kita yang selalu menggunakan kekerasan dalam segala mengatasi konflik. Banyak konflik yang tak bisa diredam dengan kepala dingin. Rasa ingin menang sendiri disertai kekerasan merupakan harga mati yang terus berlanjut. Semua pihak diharapkan dapat menjadi penengah untuk menemukan titik perdamaian. Pemerintah, aparat kepolisian, LSM atau LBH dan masyarakat diharapkan dapat menuntaskan kasus ini secepatnya. Hukum harus benar-benar berperan adil untuk mengusut para penembak. Bahkan hukum harus berani bertindak tegas.
Peran militer khususnya TNI AL sebenarnya bertugas menjadi kekuatan untuk mengamankan wilayah teritorial Indonesia. Selain itu peran yang lebih kental menggunakan kekuatan senjata secara optimal adalah perang jika kedaulatan Indonesia terancam oleh pihak musuh. Namun bentrok berdarah di Pasuruan tidak mecantumkan dari peran institusi militer tersebut. Rakyat atau warga sipil yang semestinya dilindungi malah dianggap musuh. Warga sipil yang tidak pernah menyangka akan kejadian tak seimbang itu sebagai mimpi buruk menjadi kenyataan. Hak dan kehidupan warga sipil terkoyak atas tanah yang dijadikan tempat tinggal.
Thursday, July 5, 2007
Rakyat Ditembak Lagi ....!!!
Ditulis Oleh Imigrant Sarungan at 5:18 AM
Subscribe to:
Posts (Atom)